Kebocoran Jantung Pada Anak

Artikel ini saya buat untuk menambah informasi bagi kita yang tidak bisa lepas dengan yang namanya penyakit, penyakit adalah sesuatu yang selalu ada di sekitar kita dan bisa mengancam jiwa kita, sumber dari artikel ini sebenarnya dari sebuah buku yang saya beli dengan harga obral, tapi meskipun begitu banyak sekali informasi dan pengetahuan yang terdapat pada buku tersebut setelah saya membacanya, sehingga saya mau berbagi dengan Anda mengenai isi dari buku tersebut.

Jantung Normal

 Penyakit jantung bukan hanya monopoli orang dewasa, melainka juga di alami anak-anak. Sejak masa dalam rahim, manusia rentan terhadap kelainan jantung bawaan yang terjadi pada masa organ tubuh vital itu
Pusat  Jantung Nasional Harapan Kita Menyebutkan dari  1.000 bayi yang lahir hidup di berbagai daerah di Tanah Air, enam hingga sembila di antaranya mengindap kelainan jantung bawaan. Dengan demikian, tiap tahun sedikitnya 40.000 bayi hidup dengan jantung bocor.
Mayoritas bayi yang lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB) itu meninggal sebelum berusia satu tahun. Sementara bayi yang bisa diselamatkan melalui pembedahan hanya 800 hingga 900 kasus pertahun, sebagian besar dilakukan di Pusat jantung Harapan Kita.
PDA

Berbeda dengan angka kasus penyakit jantung reumatik yang cenderung menurun namun dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kasus kelainan jantung bawaan justru tidak menurun. “ Penyakit jantung bawaan sudah terjadi ketika bayi masih dalam kandungan”, kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof dr Bambang Madiyono SpJP, SpA(K).
ASD

Terjadinya kelainan jantung bawaan masih belum jelas namun dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk genetik. “ Pembentukan jantung janin yang lengkap terjadi pada akhir semester pertama potensial dapat menimbulkan  gangguan pembentukan jantung, terutama pada tiga bulan pertama  usia kehamilan”, kata Bambang.
Ada  beberapa faktor yang dapat menimbulkan gangguan jantung  yang  dapat menimbulkan gangguan jantung yang terjadi pada masa kehamilan tiga bulan pertama, antara lain paparan sinar rontgen, trauma fisik dan psikis, serta minum jamu atau pil kontrasepsi.
Kelainan jantung bawaan juga dapat terjadi  jika ibu dan janin berusia di atas 40 tahun, menderita penyakit kencing manis, campak dan hipertensi (darah tinggi) serta jika ayah dan ibu merokok saat janin berusia 3 bulan dalam rahim.

Kebocoran
Kebocoran sekat jantung pada anak ditandai terhambatnya pertumbuhan anak. Anak dengan PJB juga memiliki berat badan tidak seimbang dengan usianya, nafsu makan berkurang, tidak kuat menyedot air susu ibu (ASI). Anak tampak lesu dan mudah capai. Bila di rontgen, jantung tampak membesar dan dengan pemeriksaan stetoskop terdengar suara bising (murmur). Penderita juga tidak henti-hentinya batuk dan demam.
Dr.Ganesja M Harimurti SpPJ, spesialis jantung dari Subbagian Jantung Anak Rumah Sakit (RS) Jantung Harapan Kita memaparkan, ada dua golongan besar penyakit jantung bawaan (PJB), yaitu jenis biru (sianotik) dan tidak biru(nonsianotik). ” Kedua golongan itu sama-sama banyak di jumpai pada pasien,” ujarnya.
SP

Pada PJB biru, bibir, lidah dan kuku terlihat biru. Warna biru kian nyata bila bayi menangis. Hal ini terjadi karena adanya kelainan pada organ jantung yang mengakibatkan darah kotor mengalir ke sirkulasi darah bersih sehingga bayi menjadi biru. Bila terlalu banyak darah kotor beredar kesirkulasi darah bersih  dan memesuki  organ-organ penting seperti otak, maka dapat terjadi sesak nafas disertai kejang, bahkan kematian.
Namun, pada pekan pertama kelahiran, warna biru biasanya belum tampak dan baru muncul setelah bayi berusia beberapa minggu atau beberapa bulan.
Pada golongan PJB tidak biru, keluhan yang sering terjadi, antara lain sesak nafas, kesulitan minum (sering berhenti saat minum seolah kelelaha, berkeringat berlebihan) sehingga berat badannya sulit bertambah. Selain itu penderita sering terkena infeksi saluran nafas  bagian bawah, bahkan banyak di antaranya mengindap ” penyakit paru kronis atau flek paru”.
VSD

PJB tidak biru yang sering dijumpai adalah kebocoran pada sekat bilik (Ventricular Septal Defects/VSD), sekat serambi (Atrial Septal Defects/ASD), terus terbukanya pembuluh yang menghubungkan nadi paru (Patent Ductus Arteriosus/PDA) menetap, penyempitan katup nadi paru  (Stenosis Pulmonal/PS)
“ PJB tidak biru ini sulit dideteksi karena tidak ada gejala fisik yang khas seperti PJB biru. Pada diagnosa awal, penderita kadang dianggap menderita penyakit paru-paru sehingga didiamkan saja,” kata Ganesja
Pada kasus ASD, VSD, dan PDA, kebocoran adakalanya tidak terdeteksi hingga beberapa hari kelahirannya. Baru setelah bayi berusia seminggu atau lebih, tekanan pada bilik kanan dan pembuluh nadi paru turun sejalan dengan berkembangnya fungsi paru, dan terlihatlah tanda kebocoran.

Pada kasus bayi dengan kelainan ASD, VSD, dan PDA, umumnya kebocoran yang terjadi tidak sampai membuat biru, ini lantaran darah kotor darii bilik kanan tidak beredar ke seluruh tubuh. Sebaliknya darah bersih dari bilik kirilah yang “menyeberang” ke jantung kanan  dan menuju paru-paru. Bila lubang kebocoran  hanya sedikit, biasanya bayi tidak terlalu memeperlihatkan keluhan.
Jika kebocoran makin besar, tanda-tanda “banjir paru” baru terlihat, antara lain bayi mulai terlihat  sesak nafas, sering mengalami infeksi saluran nafas bagian bawah, dan susah minum. Darah yang membanjir ke paru-paru bisa merusak pembuluh darah di jaringan paru-paru.
“PJB tidak biru ini bisa dideteksi dari detakan jantung bayi yang tidak normal dengan menggunakan stetoskop,” kata Ganesja.

Penanganan Medis
Untuk mencegah gangguan jantung pada janin, Ganesja menyarankan agar pada masa tiga bulan pertama kehamilan, para ibu harus menjaga kondisi kesehatan badan, tidak mengonsumsi obat antibiotic secara sembarangan, tidak merokokdan rajin berkonsultasi dengan dokter kandungan.
“Kelainan jantung bawaan ini perlu diwaspadai sejak dini, Ini bisa dilakukan dengan menggunakan USG jantung pada usia kehamilan 16 minggu dimana jantungnya sudah terbentuk sempurna,” ungkap Ganesja
Evaluasi awal untuk menegakkan diagnosis PJB meliputi beberapa tahap, yakni evaluasi klinis yang meliputi riwayat penyakit dan pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang sederhana, ekokardiografi yang terdiri dari M mode, dua dimensi  dan Doppler, serta katerisasi jantung  yang meliputi penghitungan hemodinamik dan angiografi. “Penanganan PJP biru lewat pembedahan,” ujarnya.

Namun, belakangan ada kecenderungan kardiologi  pediatric intervensi nonbedah mulai mengambil alih peran bedah  dalam penanganan PJB  tidak biru. Pelebaran katup pulmonal, katup aorta dan koartasio aorta dapat dilakukan dengan teknik ballon valvuloplasty secara transkateter. “ Intervensi nonbedah diharapkan tidak menimbulkan rasa takut pada anak,” kata Ganesja.
Sejauh ini, kendala utama penatalksanan penyakit PJB adalah ketidaktahuan orangtuanya kalau anaknya sakit jantung, sehingga penaganan medis terlambat. Ini ditambah oleh keterbatasan kemampuan dokter umum maupun dokter anak dala mendeteksikelainan jantung pada anak. “ Kalau terlambat di bawa kesentra  jantung terdekat, penyakit itu tidak bisa diapa-apain lagi,” tuturnya
Ketua Yayasan Jantung Anak Indonesia Wahyu Widayati berharap, teknologi kesehatan  di bidang intervensi kelainan jantung bawaan ini terus berkembang dengan biaya pengobatan makin murah. Dengan demikian, kebocoran jantung pada anak ini bisa diatasi sehingga para penderita kelainan jantung bawaan tidak kehilangan keceriaan masa kanak-kanak.    

Sumber Referensi:
Kasih Yang Menyembuhkan (Peran Keluarga Dalam Menangani Penyakit), 2007. PT  Kompas Media Nusantara. Jakarta : Penerbit Buku Kompas



Foto bareng teman dan dosen saat pelatihan di Rumah Sakit Harapan Kita


Share/Save/Bookmark

1 komentar:

  Anonim

7 September 2011 09.58

kagak kebaca tulisannya mase...piye toh.... mending layar backgrnd biasa aja tulisan hitam biar jelas kebaca..